ketika tak bisa bicara, maka tuliskanlah, jika tak mampu menuliskan, maka tersenyumlah, setidaknya mereka tidak akan tahu jika kamu sedang tidak baik baik saja..

*classical class

Senin, 28 Januari 2013

| 0 komentar
 29 January 2013
*classical class

Selamat siang..
siang ini cukup sederhana, mentari tak terlalu ngotot untuk menampakan dirinya, sementara aku hanya sibuk mendengarkan suara berisik dari ketiga teman laki lakiku, Denan, Jovian dan Wahyu, 3 sekawan yang seperti Tom and Jerry didalam kelas namun adakalanya mereka saling mengasihi seperti saat ini, narsis nan menjijikan mereka didepanku, iyuuuwhhh!
kelas begitu ramai, berisik walau terlihat sederhana dan tak lupa begitu hangat, Classical class harusnya diisi oleh Pa Ang di jam terakhir, tapi saat ini yang bersangkutan tak juga menunjukan batang hidungnya.
aku sedang mendengarkan, seorang teman menceritakan mantannya. aku hanya senang, mendengarkan celotehan celotehan mereka yang terdengar akrab ditelinga. Mendengarkan ceritanya dan diberi kepercayaan olehnya untuk mendengarkan sebuah cerita yang cukup menghangatkan hari ini.
rencananya sepulang sekolah, ada tambahan fisika, yaTuhan!!!!
next, nothing special selain melihat gaya pinguinnya dia yang terlihat amat menggemaskan. semakin ia berlari dan menjauh semakin aku suka untuk menatapnya lagi lagi dan lagi, terus terus dan terus hingga ia menghilang dari sapuan pandangan. selamat siang kalem..
sepertinya ada seorang teman yang sedang kesal padaku, ntah apa masalahnya, yang aku tau dia masih diam mendiamiku.
jaket classical sudah jadi, banyak komentar, pujianpun tak lebih dari sedikit. aku bahagia, memakai seragam yang sama tapi bukan seragam sekolah, mueheheee....
selamat siang, masih duduk dibangku belakang tempat duduknya Andika, dan meminjam laptop miliknya yang sejatinya sedang nganggur dari tadi. Teman teman sedang sibuk menikmati kebebasan jam matematika, sementara aku lebih memilih untuk diam dan mengurus blogku yang sudah tak lama ku buka ini. sudah lama tak ku urus hingga debu dimana mana.
Selamat siang, kelas ini kelas XII IPA, kelak akan aku rindukan suasananya. walau sering kali mereka menyebalkan, tapi tetaplah aku menyayanginyaaa...
classical class :)

My Anime

Senin, 14 Januari 2013

| 0 komentar
Jumat, 11 Januari 2013

Siang menjelang sore ini aku terduduk di tepatnya pojok kelas bersambut dinginnya AC yang berhembus membuatku dingin dan dia tak lagi melepas jaket hitamnya. Masih diam-diam memperhatikan, dan berharap agar tidak ketahuan. Detak jarum jam serasa berputar cepat saat ini. Mengamati setiap titik darinya yang malah lebih mirip anime (komik-komik Jepang), dia diam dan memainkan kakinya. Ia terlihat serius sedang memperhatikan seseorang yang sedang menjelaskan Hipotesis Kuantum Planck, FISIKA yang menurutku sangat memuakan. Ia masih setia, menatap sang pembicara yang terlihat sedikit aneh, tersenyum & bertanya bebas, sedikit konyol -__-
Sesekali ia tersenyum, menangkap tingkah konyol dari sang pembicara, dan aku pun tersenyum menikmati senyumnya yang hanya menghasilkan sebuah garis di matanya. Ia banyak bertanya, namun diam panjang setelahnya. Aku tak mengenalnya jauh, namun ia memberikan suasana hangat dalam dinginnya ruang ini. Sang pembicara ini terlihat begitu lucu, dan selalu membuatku tertawa, karena ketidakjelasannya. "Dia itu guru SMP". Suara berat itu menyapa gendang telingaku santai. Aku menoleh ke arahnya dan menikmati mata segarisnya yang sedang menatap hangat aku disampingnya. Aku hanya diam masih menatapnya dan suara pembicara kembali memecah komunikasi klasik ini. Sesekali ia mengetuk-ngetuk jarinya ke permukaan meja seperti menikmati alunan yang dinikmatinya. Jam pun usai dan kita mesti saling meninggalkan, sampai jumpa, senang berada di jarak tak dari semeter darimu, sampai bertemu lagi :)

Maaf - Jovi.

Jumat, 28 Desember 2012

| 0 komentar
Hari ini, tepatnya tanggal 28 Desember 2012...
Hari yang singkat untuk diingat. 
Entah harus bilang apa...
Semuanya berawal saat bete melanda...
Saiya pergi...
Saiya datang...
Pergi...
Datang...
Pergi...
Datang...
Huuuffft...~
Mau jalan kemana?~
Yang ada hanya bingung...
Saiya tidak pernah berfikir panjang.
BODOH.
Tau kenapa?
Saiya juga tidak tauuu...
Dan yang jelas, saiya cuman bisa bilang maaf...
Sama ini~ maaf...
Sama itu~ maaf...
Sama dia~ maaf...
Sama kamu~ maaf...
Maaf... Maaf... Maaf... Maaf... Maaf... Maaf... Cuman itu yang aku pikirkan.
Walau, kata maaf tidak akan mengganti segalanya... Saiya ulangin terus kata maaf itu... Maaf... Maaf... Maaf... Maaf... Maaf... Selama dalam perjalananpun saiya ulangi kata-kata itu, sampai entah apa artinya maaf itu...

Maaf - from @digigitnyamuk.
Jovi.

malam minggu hujan, yaudah!

| 0 komentar
selamat petang menjelang malam..

masih mendung, melanjutkan siang tadi yang dengan bahagianya air air itu meluncur bebas basahi mayapada. Penghuni mayapada bereaksi berbeda, mereka bersorak riang, dan mereka terlihat kesal. Sejatinya rintik rintik itu menghiasi hari hari kelabu dimana rasa panas mencair dengan sendirinya. Sebagai pengagum hujan, aku ikut bersorak soray, menatapnya dari balik jendela kamar, dan berdoa semoga saja hujan ini bisa menyejukan dirinya yang mungkin sedang gundah ntah mengapa. Atau setidaknya memberikan energy sama yang bisa mendoping senyum diparas `kalem`nya itu. 

malam ini malam minggu? Hampir saja lupa! Jika teman tidak mengingatkan, mungkin aku lupa. Sejatinya malam adalah dimana bintang bintang memutuskan untuk terlihat atau tidak. Dan malam ini mereka memutuskan untuk tidak menampakan diri. Mereka mengalah untuk awan kelam yang menampilkan pesona pribadi. Lagi lagi dibalik jendela, menatapnya penuh kerinduan, semerindu aku kepadanya yang mungkin akan lama tak bertemu. Malam ini malam minggu, lalu apa masalahnya dengan itu? malam ini malam minggu? Ya udah! 

Malam ini malam minggu, sebagian dari mereka menyebar message yang membuat telingaku bising dibuatnya. Apa salahnya dengan malam minggu? Masih terlihat sama, tak ada yang berbeda. Setiap malam diciptakan dengan dekorasi yang menawan. Tanpa pesona, apalah malam? Setiap malam adalah suasana yang menenangkan. Dimana bulan dengan bahagianya bersedia menerangi mayapada yang setia mengelilingi mentari. Dan hanya malam, yang tapat memalingkan mayapada pada bulan sosok penanti. Suara hujan begitu mesra ditelinga, terdengar seperti irama nada istimewa. 

Ada sebuah pesan yang disampaikan dari hujan,sebuah makna yang mungkin tak perlu untuk dicermati, namun yakini mereka datang bersama sama dan meneduhkan mayapada. Membuat mayapada ini menjadi istimewa. Memberikan sumber energi kepada kita. Bagaimana jadinya jika mereka terjun sendiri sendiri? Konyol!
 `Mereka terlihat kompak dan bahagia, bersatu dan berkumpul menjadi sebuah genangan, hingga mereka loncat kegirangan saat sesosok benda menghendaki mereka untuk melompat gembira` (mas adi)

Malam ini malam minggu, dan malam ini hujan romantis menjumpai mayapada yang terlihat manis dan eksotis. Semanis dirinya yang mengenakan sweater coklat semu abu. Aku selalu mengingat parasnya. Paras yang selalu hinggapi hati yang lara. Malam ini malam minggu, apakah dirinya baik baik saja disana? Apakah dirinya berkonsep sama sepertiku? Malam ini hujan kembali mampir dimayapada yang cantik, apakah ia menikmati rombongan air air yang dengan bahagianya meluncur basahi bumi? Apakah dia sama semangatnya saat mencium aroma hangat dari mayapada yang baru saja bertemu dengan air hujan?

Apakah kalemku baik baik saja di malam minggu yang dijumpai hujan ini? Aku ingin menitipkan salam pada hujan untuknya dimalam minggu ini. Aku ingin dia mendengar, jika malam minggu ini hujan, dan aku ingin dia menikmati keindahan mayapada yang telah dipersembahkan. Aku ingin dia mengerti apa arti dari malam minggu hujan. Aku tak mengisyaratkan, namun aku mensiratkan, semoga dia mengerti dan dapat memahami. Malam ini malam minggu, dan malam minggu hujan, aku masih saja merindu. Merindukanmu yang masih saja membuatku menunggu~



selamat pagi, backnumber 15

Senin, 17 Desember 2012

| 0 komentar

Senin, 17 Desember 2012
Selamat pagi~
Pagi yang indah, dengan mendungnya yang menguntai, diselingi cahaya mentari yang malu malu untuk menyongsong pagi. Pagi ini diawali dengan sejumput asa dan harapan yang disertai doa dalam sujudku. Berharap hari ini akan lebih indah dari hari yang pernah terlewati. Berharap semua baik baik saja seperti apa yang diharapkan. Berharap semoga aku betah berada disuasana sekolah yang amat membosankan, terkecuali hadirnya dalam pandangannku.
Jagat raya yang menguntai, melukiskan keindahan semenanjung langit yang mempesona membuatku tak lelah untuk menatapnya. Disini, dilapangan ini. Seluruh murid wajib berbaris dan mendengarkan arahan dari sang pembicara. Dengan tatapan malas, mau tak mau semua mendengarkan. Mendengarkan intruksi yang harus didengar. Menyapu ke seliling pandangan membuatku tersenyum tenang. Ia yang sedari kemarin ku cari, akhirnya muncul dalam kerumunan kawan kawan. Anak anak kelas mesin itu sungguh selalu memberikan ciri khas, ntah dengan musik, dengan pakaian, dan dengan apa yang mereka lakukan. Mereka santai, walau kadang menyebalkan. Mereka terlihat kompak, namun Classical tak kalah kompaknya! Ku lihat jaket hitam bergaris merah terpakai rapi ditubuhnya. Tubuh yang selalu aku cari cari itu. ia hanya diam, memperhatikan sekitar. Walau mata kami tak saling bertemu. Karena jarak kami yang begitu jauh, yang tak bisa digapai walau dengan teriakan. Aku cukup lega, melihatnya baik baik saja pagi ini.
Masih mendung, walau sudah bersemangat sesemangat hari ini menatapnya. Walau masih hanya menyapanya dengan doa, aku masih bisa menyaksikan tawanya. Tawanya yang saat itu mengenakan pakaian olah raga yang ia pakai. Perlombaan olah raga antar kelas ini membuatnya berganti pakaian. Pakaian kesebelasannya, walau yang memakai hanya lima orang. Karena futsal tak lebih dari itu. ia tertawa geli saat baju yang dikenakannya terlalu sempit dan pas dibadan. Tak masalah bagiku, ia masih terlihat kalem dan, tampan!
Nomer punggung 15~ aku tak sekalipun mengalihkan pandangan darinya. Walau lapangan itu berisikan 10 orang yang sedang sibuk berlarian kesana kemari, aku tak peduli. Aku hanya fokus pada satu orang, nomor punggung 15. Babak pertama ia terlihat santai, hanya berlari kecil walau sesekali penuh nafsu untuk mengejar bola. Babak kedua, terlihat ia semakin bersemangat, terbukti dengan keringat yang menghiasi paras dan keningnya itu. lelahkah kamu kalem? Andai aku bisa menyapamu, menanyakan apakah kamu baik baik saja? karena terakhir ku lihat, kau meninggalkan lapangan dengan kaki sebelah yang terlihat sakit. Jalanmu tak seperti biasa, jangan buat aku hawatir!
Hasil foto yang ku ambil dari jarak kejauhan membuatku tersenyum senang. Bagaimana tidak, selama ini aku hanya bisa merekam parasmu dalam memori otakku. Walau sebenarnya foto yang ku ambil dari jarak sekian ini tak mampu buatku nyaman saat jauh darimu. Aku masih mengingat, caramu menendang bola, caramu berlari kesana kemari, caramu mengusap keringat, dan, caramu mencuri pandang ke arahku disela permainan itu. aku hanya bisa menatapmu dari sini, dari sisi lapangan yang tak bisa menggapaimu, dan kamupun hanya bisa terlihat sesekali mengusap peluh keringat yang basahi paras tenangmu itu. congrats, kerja timmu mebghasilkan kemenangan untuk kelasmu, selamat.. aku senang mendengarnya, karena dengan itu kamu akan tampil di next pertandingan, dan aku bisa kembali memperhatikanmu dari jarak ini, jarak seperti biasa, jarak kesekian dari langkah kita, ya.. jarak yang tak bisa ku gapai dirimu. kalem selamat pagi. Harimu indahkah?
Selamat pagi, backnumber 15~
aku tidak pandai bicara, menghitungpun aku tak pintar. lebih baik menuliskan agar bisa terdengar. maafkan segala kekurangan,terimakasih sudah membaca..