ketika tak bisa bicara, maka tuliskanlah, jika tak mampu menuliskan, maka tersenyumlah, setidaknya mereka tidak akan tahu jika kamu sedang tidak baik baik saja..

secret admirer~

Senin, 17 Desember 2012

|

Sering kali di anggap pengecut, sering kali di anggap penakut. Biarlah presepsi itu berjalan. Karena faktanya semua itu indah menguntai. Tak ada lagi jalan, mungkin begitu menurutnya, menurutku, menurut mereka. Hingga hanya bisa menatapnya dari kejauhan, dari jarak sekian, jarak dimana kita tak bisa saling menggapai. Walau faktanya sering kali menyesakkan saat berselisih jalan namun tak pernah saling menyapa. Bukankah itu mau kita? Mauku, maumu dan mau mereka, secret admirer!
Salahkah kita? Jika hanya ikut bahagia saat ia terlihat bahagia. Walau tak tau apa yang ada dalam isi hatinya. Senyumnya kadang buat hariku terang, menguntai panjang nan mempesona. Klise memang, namun apadaya? Semua itu fakta, dan semacam ini memang masih ada. Ada ntah sampai kapan hingga mungkin aku tak lagi diam diam memperhatikannya. Tak banyak yang bisa dilakukan, selain memperhatikannya dari jarak ini, jarak seperti biasa. Dan akan merasa senang saat sosoknya berjalan mendekat, mendekat hingga kami hanya satu jengkal berjarak. Walau akhirnya tak ada kontak antara kami. Waktu lagi lagi tak bisa ku hentikan, hanya sekedar menoleh ke arahnya dari jarak itu. itu tak bisa!
All is well~ seorang teman mencoba menenangkan, ya semua akan baik baik saja, everything gonna be okay, n I believe it. Faktanya waktu selalu setia, menepati janjinya yang kita minta. Hadirnya lagi lagi membuat degup jantungku bersorak soray, ada ritme yang tak mampu dilukiskan saat ia kembali berjalan, berjalan dengan langkahnya, ya langkah yang selalu aku rindukan.
Kelak, hadirnya akan memberikan kenangan, menguntai kerinduan akan ketenangan yang ia ciptakan. Aku akan merindukan, bukan hanya merindukannya, namun merindukan pula memperhatikannya diam diam dari jarak yang tak bisa ku gapai. Kelak, akupun akan merindukan, merindukan sosoknya yang kerap kali mewarnai hari abu abu ini. Tak ada yang salah, aku terlalu cemen untuk menatapnya dari jarak yang mampu direngkuh, tak ada yang salah, ia yang mungkin tak tau apa yang sebenarnya terjadi. Semua sama, satu sama, seperti permain futsal yang kerap kali ia mainkan, dan aku selalu setia menatap dan memperhatikannya, yang diam diam adalah supporternya yang paling menyemangatinya dengan doa yang terpanjatkan padaNya.
Selamat malam, sampai kapan aku menjadi secret admirermu? Ntahlah. Mungkin kelak tulisan ini akan berlanjut, dan aku belum tau pasti apa isi dari tulisan selanjutnya. Aku masih ingin menatapmu, walau sering kali mata kita bertemu. Aku masih ingin tetap berada jauh denganmu, walau tak ku pungkiri aku selalu ingin berada lebih dekat denganmu. Aku masih ingin melihat senyummu, walau faktanya mengetahui kabar dan apa yang akan kau lakukan hari ini sangatlah penting untukku.
Apalah aku? Kita hanya saling mengenal, mengetahui nama satu sama lain, tanpa pernah saling bertanya kabar, tanpa pernah saling bersua dan menjalin percakapan. Walau sering kali ada kalimat kalimat indah yang kau sampaikan dalam tatapan matamu saat pandangan kita bertemu persekian detik, walau sekilas itu saja. terima kasih telah menjadi indah dalam pandanganku. Terima kasih sudah baik baik saja, dan memberi tahu keadaanmu dengan senyum mempesonamu itu.
Sampai jumpa di tempat dan waktu yang lebih indah, kalem :)

0 komentar:

Posting Komentar

:)

aku tidak pandai bicara, menghitungpun aku tak pintar. lebih baik menuliskan agar bisa terdengar. maafkan segala kekurangan,terimakasih sudah membaca..